Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memberikan peringatan dini terkait perkiraan cuaca tahun ini di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Prediksi terbaru menunjukkan musim kemarau Jogja 2026 akan cenderung lebih kering dibandingkan kondisi normal. Hal tersebut secara langsung dipengaruhi oleh dinamika atmosfer serta potensi kemunculan fenomena El Nino pada paruh kedua tahun ini.

Ancaman El Nino dan Monsun Australia

Kepala Stasiun Klimatologi DIY, Reni Kraningtyas, memaparkan bahwa sejumlah indikator iklim mulai menunjukkan perubahan signifikan. Monsun Australia dilaporkan mulai aktif, yang ditandai dengan pola pergerakan angin timur di wilayah selatan ekuator Indonesia. Sementara itu, parameter iklim global lainnya dipantau masih dalam kondisi netral hingga pertengahan tahun.

Namun, potensi kekeringan diprediksi semakin nyata memasuki bulan Juli. BMKG mencatat adanya peluang munculnya El Nino dengan intensitas lemah hingga moderat sebesar 50 hingga 60 persen. Kondisi krusial inilah yang berpotensi memicu musim kemarau Jogja 2026 menjadi lebih terik dan minim curah hujan. Di sisi lain, suhu muka laut di perairan selatan DIY terpantau masuk dalam kategori dingin hingga netral.

Jadwal Puncak Kekeringan di DIY

Masyarakat perlu memperhatikan jadwal peralihan musim ini untuk persiapan lebih awal. Awal kemarau di wilayah DIY diprediksi mulai terjadi pada akhir April hingga awal bulan Mei. Oleh karena itu, masyarakat Jogja akan mulai merasakan penurunan intensitas hujan secara bertahap dalam waktu dekat.

Puncak kekeringan diperkirakan akan berlangsung serentak pada bulan Agustus 2026 di seluruh wilayah DIY. Selain itu, sifat curah hujan selama periode ini diprediksi berada di bawah batas normal. Total curah hujan selama rentang musim kemarau Jogja 2026 diperkirakan hanya akan berkisar antara 250 hingga 400 milimeter.

Antisipasi Gagal Panen dan Cuaca Ekstrem

Dampak dari cuaca kering ini tidak bisa diremehkan, terutama bagi kelompok petani. Potensi kekeringan ekstrem diprediksi terjadi pada rentang waktu Juli hingga September 2026. Kondisi ini tentu menuntut pengelolaan sumber daya air yang jauh lebih ketat di berbagai wilayah yang rawan krisis air bersih.

Para petani diimbau untuk segera menyesuaikan pola tanam agar terhindar dari risiko kerugian akibat gagal panen. Selain itu, masyarakat umum diminta tetap waspada selama masa pancaroba atau peralihan musim saat ini. Cuaca ekstrem seperti hujan lebat singkat, petir, dan angin kencang sangat berpotensi terjadi sebelum kemarau benar-benar tiba.

Komentar Ditutup! Anda tidak dapat mengirimkan komentar pada artikel ini.