Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menargetkan ribuan hektare lahan bekas tambang dapat direklamasi pada tahun 2025. Terkait upaya tersebut, langkah nyata telah ditunjukkan oleh Agus Affianto atau yang akrab disapa Picoez. Dosen UGM pulihkan bekas tambang melalui program pengabdian masyarakat di Desa Manggar, Kabupaten Belitung Timur.
Kawasan tersebut merupakan lahan tailing atau pasir bekas tambang timah yang terletak tidak jauh dari SD Laskar Pelangi. Pada awalnya, lahan ini tergolong sangat ekstrem dan dinilai sulit untuk diolah kembali menjadi area produktif. Secara alami, rumput saja diperkirakan membutuhkan waktu hingga 20 tahun untuk bisa tumbuh mandiri di lokasi tersebut.
Tantangan Ekstrem Lahan Tailing
Suhu hamparan pasir di lokasi bekas tambang ini bisa mencapai 62,4 derajat Celcius pada pagi hari. Oleh karena itu, penanaman secara langsung dan konvensional dipastikan tidak mungkin dilakukan karena tanaman akan mati. Selain itu, karakteristik pasir yang tidak mampu menyerap air menyebabkan kondisi tanah menjadi sangat asam ketika hujan turun.
Menghadapi kondisi alam yang ekstrem tersebut, Picoez bersama tim dari Fakultas Kehutanan UGM berkolaborasi dengan pemerintah daerah setempat. Mereka merumuskan sebuah metode inovatif untuk menyiasati kondisi geografis yang sulit tersebut. Langkah awal dosen UGM pulihkan bekas tambang ini dimulai dengan membuat demplot sebagai media uji coba di area seluas 10 hektare.
Inovasi Metode Kompos Blok
Tim UGM akhirnya mengembangkan metode berbasis kompos blok yang dipadatkan sebagai media tanam utama. Kompos tersebut berfungsi krusial untuk meningkatkan kemampuan tanah dalam menyimpan kelembapan alami di tengah cuaca panas. Berkat inovasi ini, beberapa jenis tanaman seperti buah naga, kelengkeng, cemara, hingga jambu mulai dapat ditanam.
Picoez menjelaskan bahwa ada empat tahapan utama yang menjadi kunci keberhasilan metode rehabilitasi ini. Tahap pertama adalah memastikan tanaman hidup menggunakan kompos fermentasi, sementara itu tahap kedua berfokus pada penjagaan kelembapan batang tanaman. Selanjutnya, tahap ketiga adalah pemberian pupuk yang presisi, dan tahap terakhir difokuskan agar tanaman mampu menghasilkan panen.
Memberdayakan Warga Setempat
Upaya dosen UGM pulihkan bekas tambang tidak hanya menyoroti perbaikan lingkungan fisik semata. Program ini juga dirancang untuk mengedepankan aspek sosial dan ekonomi agar masyarakat setempat mendapatkan manfaat nyata dari hasil perkebunan. Hal ini menjadi tantangan tersendiri karena sebagian besar warga awalnya hanya terbiasa bekerja di sektor penambangan timah.
Kisah inspiratif turut muncul dari seorang warga lansia bernama Nek Inah yang gigih merawat tanaman di lahan rehabilitasi tersebut. Meskipun hasil panen semangkanya sempat dicuri menjelang Idulfitri, ia tetap optimis dan pantang menyerah untuk terus bercocok tanam. Semangat warga inilah yang kemudian menjadi motivasi utama bagi tim peneliti UGM untuk terus melanjutkan proses penghijauan.
Harapan untuk Masa Depan Ekosistem
Saat ini, model rehabilitasi kompos blok tersebut telah berhasil diadaptasi oleh berbagai pihak di daerah dengan permasalahan serupa. Kawasan bekas tambang di Belitung Timur itu perlahan mulai menunjukkan perbaikan ekosistem berkat intervensi manusia yang terencana. Namun, Picoez kembali menegaskan bahwa keberhasilan ini membutuhkan komitmen panjang dan tidak bisa diraih dalam waktu singkat.
Langkah konsisten dosen UGM pulihkan bekas tambang ini menjadi pengingat penting mengenai fungsi ekologis alam kita. Picoez berharap pemerintah pusat dan daerah tidak sekadar memandang hutan dari nilai ekonomi sesaat. Melainkan, kelestarian alam harus dipertahankan sebagai penyedia jasa lingkungan yang krusial bagi keseimbangan hidup manusia.









