Yogyakarta memang surganya soto. Dari soto bening a la Kadipiro hingga soto lenthok yang unik, semua ada. Namun, jika melintas di Jalan A.M. Sangaji, tepat di seberang kemegahan Hotel Tentrem, ada sebuah warung tenda sederhana yang tak pernah sepi pengunjung. Namanya Soto Lamongan Hijroh.
Bagi pelanggan setia, soto ini juara karena kuahnya yang medok dan taburan koyanya yang melimpah. Tapi bagi mereka yang tahu sejarahnya, semangkuk soto di sini memiliki rasa yang lebih dalam. Ada kisah perjuangan seorang pria yang berani meninggalkan gelimang harta “panas” demi hidup yang tenang.
Dari Manajer Judi ke Penjual Soto
Di balik racikan bumbu kuning yang gurih itu, ada sosok Bapak Rohaji. Jauh sebelum tangannya lincah meracik soto, tangan itu pernah akrab dengan dunia ketangkasan. Sejak tahun 1999 hingga 2006, Rohaji adalah manajer harian sebuah arena judi besar di salah satu wilayah Yogyakarta. Ia bertanggung jawab penuh atas operasional tempat tersebut.

Hidupnya kala itu sangat makmur. Pendapatannya mencapai Rp20 juta per bulan angka yang sangat fantastis di masa itu. Namun, titik baliknya terjadi saat mantan Kapolri Jenderal Polisi (Purn) Sutanto (2005-2008) gencar mencanangkan pemberantasan judi.
Kehilangan sumber penghasilan besar sempat membuat imannya goyah. Karena terbiasa hidup berkecukupan di dunia hitam, Rohaji mengaku sempat berpikir untuk mengambil jalan pintas lain.
“Dulu sempat berpikiran menjadi bandar narkoba. Tetapi mungkin sudah jalannya, saya memutuskan untuk mencoba jualan soto,” ungkapnya mengenang masa-masa sulit tersebut dilansir dari tribunjogja
Mental Baja dan Rasa Malu
Keputusan banting setir ini bukan tanpa tantangan. Rohaji yang tidak punya pengalaman kuliner, nekad belajar membuat soto dari temannya asal Lamongan. Hebatnya, ia hanya butuh waktu dua hari untuk belajar sebelum akhirnya membuka warung Soto Lamongan Hijroh.
Namun, tantangan terberat bukanlah soal rasa, melainkan mental. Rohaji mengaku sempat merasa malu luar biasa. Dari seorang manajer yang disegani dan berduit, tiba-tiba harus melayani pembeli di pinggir jalan. Hari pertama berjualan, ia hanya membawa pulang uang Rp20.000. Namun, mental baja yang ia dapat selama di bisnis haram membuatnya bertahan.
Filosofi Hijroh dan Rasa yang Otentik
Nama “Hijroh” yang terpampang besar di spanduk merupakan akronim dari namanya, Rohaji, dan kata “Hijrah”. Bagi Pak Rohaji, warung ini adalah simbol rezeki halal yang jauh lebih nikmat daripada harta berlimpah namun tak berkah.
Soto Lamongan Hijroh bertahan belasan tahun karena rasanya memang nendang. Berbeda dengan soto Jogja yang manis bening, soto ini membawa pakem asli Jawa Timur. Kuahnya kuning pekat, kaya rempah, dengan potongan ayam kampung tebal.
Kuncinya ada di koya yang melimpah. Saat diaduk dengan kuah panas dan jeruk nipis, teksturnya menjadi creamy. Tak heran jika tamu-tamu hotel bintang lima di seberang jalan sering “melipir” ke sini. Lidah dimanjakan oleh gurihnya soto, dan hati diingatkan oleh kisah Pak Rohaji: bahwa tidak ada kata terlambat untuk berubah.


