Kisah Ibu Sudarti menjadi salah satu potret haru di balik masifnya pembangunan infrastruktur negara saat ini. Warga Desa Kalikuto, Kabupaten Magelang tersebut harus rela melihat sawah peninggalan orang tuanya tergusur proyek jalan bebas hambatan. Namun, penantian panjang selama tiga tahun akhirnya berbuah kepastian setelah ia menerima uang ganti rugi Tol Jogja Bawen senilai miliaran rupiah.
Lahan pertanian yang terdampak proyek tersebut sangat bersejarah karena telah menghidupi keluarganya secara turun-temurun. Oleh karena itu, pelepasan lahan ini bukan sekadar urusan nominal, melainkan juga soal keikhlasan melepas kenangan masa lalu. Pada Rabu (15/10/2025), Ibu Sudarti resmi mengikuti proses pencairan dana di Balai Desa Banyusari.
Didampingi putra tercintanya, Ahmad Solikun, ia menerima kompensasi negara untuk dua bidang tanah miliknya yang terkena trase tol. Nilai kompensasi yang diterima keluarga sederhana ini terbilang sangat fantastis dan dipastikan akan mengubah nasib mereka. Satu bidang tanah dihargai Rp68 juta, sementara satu bidang lainnya mencapai angka Rp3,4 miliar.
Mengelola Uang Ganti Rugi Tol Jogja dengan Bijak
Meski kini memegang uang miliaran rupiah, Ibu Sudarti mengaku sedih karena sawah sumber penghidupan utamanya kini habis tak bersisa. Oleh karena itu, ia berencana menggunakan uang ganti rugi Tol Jogja ini secara hati-hati untuk membeli lahan pertanian baru. Ahmad, sang anak, mengaku sejak kecil memang hanya mengenal kehidupan pedesaan sebagai seorang petani tulen.
Keluarga ini sama sekali tidak bisa membayangkan akan bekerja apa jika tidak kembali menggarap sawah. Menerima uang dalam jumlah besar di waktu yang singkat tentu membawa tantangan serta kecemasan tersendiri bagi keluarga Ibu Sudarti. Ia menegaskan tidak akan gegabah membelanjakan dana tersebut dan memilih untuk bermusyawarah dengan keluarga besar terlebih dahulu.
Berharap Kehidupan Tetap Berjalan Lancar
Musyawarah tersebut dirasa sangat penting untuk memikirkan jaminan masa tuanya kelak. Ia tidak ingin uang miliaran tersebut habis sia-sia begitu saja jika langsung dibagikan kepada anak-anaknya tanpa perencanaan matang. Sementara itu, Ahmad menceritakan bahwa masa tunggu tiga tahun sempat membuatnya pusing menghadapi ketidakpastian nasib lahannya.
Selama masa tunggu itu, ia tetap rutin menanam padi seperti biasa sebelum akhirnya proyek tol benar-benar berjalan dan menggusur sawahnya. Kini, keluarga Ibu Sudarti berusaha ikhlas sepenuhnya melepas semua kenangan di atas sawah warisan leluhur tersebut. Mereka sangat berharap pengorbanan merelakan tanah keluarga ini dapat membawa manfaat ekonomi yang nyata bagi masyarakat luas.







