Bagi sebagian besar penonton, hasil akhir sebuah pertandingan sepak bola hanya ditentukan oleh angka di papan digital. Namun, hal ini tidak berlaku bagi Dimas (Dimaz Maulana) dan Bernard. Dua sosok penggerak di balik inisiatif Bawah Skor ini meyakini bahwa sepak bola adalah rangkaian memori kolektif dan identitas budaya yang harus diselamatkan.

Melalui obrolan mendalam di program media digital Jogjavibes milik kanal YouTube JVMG Network, Bawah Skor membagikan kisah perjuangan mereka. Berawal dari sekadar kolektor cerita, mereka kini bertransformasi menjadi inisiatif pengarsipan independen yang fokus merekonstruksi sejarah PSIM Yogyakarta sejak era 1920-an.

Tiga Pilar Utama Gerakan Bawah Skor

Gerakan kultural yang diinisiasi oleh Bawah Skor tidak sekadar berbicara tentang dukungan di tribun. Mereka memiliki tiga pilar aktivasi yang dijalankan secara konsisten dari waktu ke waktu. Pertama adalah penyelamatan artefak sejarah. Mereka rutin mengumpulkan foto usang, kliping berita lawas, hingga barang peninggalan para legenda klub. Tujuannya tentu untuk mencegah punahnya bukti sejarah sepak bola lokal.

Kedua, mereka menggagas program Napak Tilas atau Football Heritage. Lewat tur sejarah ini, para suporter diajak menyusuri sudut-sudut kota Yogyakarta yang punya keterikatan historis dengan klub. Oleh karena itu, suporter bisa merasakan langsung atmosfer kejayaan Laskar Mataram di luar stadion.

Selain itu, pilar ketiga berfokus pada program Literasi Hijau yang menggabungkan ekologi dan kepedulian suporter. Mereka rutin menerbitkan zine independen yang didistribusikan dengan sistem penukaran sampah daur ulang. Inisiatif ini sukses membangun kesadaran lingkungan sekaligus meningkatkan minat baca akar rumput.

Kisah Emosional Zine Edisi Si Musafir

Salah satu fragmen paling emosional yang dibagikan Bernard dalam podcast tersebut adalah kisah di balik pembuatan Zine Edisi 31. Edisi ini ternyata menjadi satu-satunya zine suporter rilisan Bawah Skor yang tidak pernah dibagikan langsung di dalam tribun stadion kebanggaan mereka.

Kala itu, akibat kendala perizinan yang pelik, pertandingan kandang Laskar Mataram harus terusir jauh hingga ke Stadion I Wayan Dipta, Bali. Namun, alih-alih berhenti berproduksi, komunitas ini memilih tetap mencetak karya literasi tersebut.

Sementara itu, distribusinya dialihkan secara gerilya ke berbagai titik lokasi nonton bareng (nobar) suporter di wilayah Jogja dan sekitarnya. Peristiwa ini menjadi bukti konkret bagi mereka bahwa literasi dan dedikasi seorang suporter tidak boleh dibatasi oleh benteng fisik stadion.

Kritik Satir untuk Infrastruktur Jogja

Di sisi lain, obrolan ini tidak hanya berputar pada romantisasi masa lalu semata. Bawah Skor juga kerap menyelipkan narasi satir mengenai stagnasi perbaikan fasilitas Stadion Mandala Krida. Kondisi infrastruktur yang belum juga memenuhi standar kompetisi memaksa klub kebanggaan warga Yogyakarta ini harus sering menjadi musafir.

Keresahan akan nasib PSIM yang terus-terusan menyewa stadion di kabupaten tetangga inilah yang terus mereka suarakan. Melalui gerakan pengarsipan, zine, dan aktivasi sosial, Bawah Skor membuktikan bahwa suporter sepak bola bukan sekadar konsumen tiket, melainkan penjaga sejarah kota yang paling setia.

Bawah Skor – Gudang Arsip dan Sejarah PSIM Jogja

Komentar Ditutup! Anda tidak dapat mengirimkan komentar pada artikel ini.