Wisma Hartono Yogyakarta resmi ditutup secara permanen pada tanggal 4 Mei 2025. Penutupan ini menjadi titik akhir dari perjalanan panjang gedung yang telah menghiasi lanskap kota selama hampir tiga dekade. Oleh karena itu, momen ini memunculkan banyak kenangan dan rasa kehilangan bagi masyarakat setempat.

Sejarah Panjang Bangunan Ikonik Sudirman

Bangunan yang berlokasi strategis di Jalan Jenderal Sudirman ini memiliki rekam jejak sejarah yang kuat. Pada awalnya, gedung megah ini dibangun sebagai kantor wilayah Bank Dagang Nasional Indonesia (BDNI). Sebelumnya, operasional bank tersebut dipusatkan di kawasan Jalan Brigjen Katamso.

Gedung ini diresmikan secara langsung pada 5 Oktober 1995 silam. Peresmian bersejarah tersebut dilakukan oleh Sri Sultan Hamengkubuwono X bersama Paku Alam VIII. Sejak saat itu, Wisma Hartono Yogyakarta hadir sebagai salah satu simbol kemajuan ekonomi dan budaya di pusat Kota Pelajar.

Desain Arsitektur Jawa Modern

Daya tarik utama dari bangunan ini terletak pada konsep arsitektur Jawa modern yang sangat kental. Arsitek Willy Tjie dari Daya Indria Permai adalah sosok yang merancang gedung setinggi 32 meter ini. Bangunan enam lantai tersebut berdiri gagah dengan luas area bersih mencapai 2.665 meter persegi.

Konsep desainnya secara apik mampu menggabungkan nilai estetika modern dengan falsafah budaya lokal. Selain itu, bentuk fasad bangunan ini menjadikannya sangat unik dan berkarakter di mata warga yang melintas.

Perubahan Fungsi Usai Krisis Moneter

Namun, badai krisis moneter yang melanda Indonesia pada tahun 1998 membawa perubahan besar bagi nasib gedung ini. BDNI terpaksa tidak lagi menggunakan bangunan tersebut untuk aktivitas operasional perbankan. Sementara itu, gedung mulai dialihfungsikan menjadi area perkantoran umum dan pusat komersial untuk bertahan.

Seiring berjalannya waktu, berbagai penyewa silih berganti menempati area komersial di gedung bersejarah ini. Gerai restoran cepat saji KFC yang menempati lantai dasar bahkan tercatat menjadi penyewa terakhir yang bertahan. Restoran tersebut terus beroperasi melayani pelanggan hingga hari penutupan gedung secara resmi diumumkan.

Ruang Terbuka Hijau yang Hilang

Transformasi fungsi fisik juga terlihat jelas pada area luar bangunan. Area taman asri yang dulunya menjadi ruang terbuka hijau kini telah berubah wujud menjadi lahan parkir kendaraan. Perubahan wajah ini secara perlahan ikut menyesuaikan kebutuhan komersial gedung dari masa ke masa.

Akhir Sebuah Babak Sejarah

Penutupan permanen ini menandai berakhirnya satu babak penting dalam sejarah dunia perkantoran dan ruang publik di Yogyakarta. Banyak warga yang merasa kehilangan karena gedung ini menjadi saksi bisu perkembangan dan dinamika kota. Terutama, bagi generasi era 1990-an hingga 2000-an yang memiliki kenangan nongkrong atau bekerja di tempat ini.

Kini, Wisma Hartono Yogyakarta benar-benar berhenti beroperasi dan hanya menyisakan jejak nostalgia. Gedung ikonik ini akan selalu dikenang sebagai salah satu warisan sejarah arsitektur di tengah pesatnya laju modernisasi Yogyakarta.

Komentar Ditutup! Anda tidak dapat mengirimkan komentar pada artikel ini.