Menelusuri perjalanan Stadion Kridosono Yogyakarta dari era kolonial Belanda, masa kejayaan PSIM, hingga transformasinya menjadi venue konser musik dan acara publik. Pernah juga denger gosip mau dijadikan mal, cagar budaya, dan sekarang katanya mau dijadikan ruang terbuka hijau sama pihak keraton. Dalam sepuluh tahun ke depan, kira-kira Stadion Kridosono bakal jadi apa ya?
Stadion Kridosono merupakan stadion pertama di Yogyakarta, sudah ada sejak zaman Belanda
Dulunya, keberadaan stadion ini tak terlepas dari pembangunan wilayah Kotabaru (dulu disebutnya Nieuwe Wijk) di era kolonial. Kotabaru merupakan daerah yang dipesan oleh Belanda untuk dijadikan kompleks perumahan. Kebetulan pada saat itu jumlah warga Belanda di Yogyakarta melonjak tinggi. Makanya, tak heran kalau lewat Kotabaru, kita lihat ada banyak rumah-rumah bergaya Belanda. Selain membangun tempat tinggal, warga Belanda juga membangun fasilitas olahraga yang menjadi bagian dari enklave atau kantung pusat Kotabaru. Fasilitas tersebut terdiri atas kolam renang, lapangan tenis, dan lapangan sepak bola. Nah, lapangan sepak bola inilah yang diberi nama Lapangan Kotabaru dan menjadi cikal-bakal Stadion Kridosono.
Proyek Stadion Kridosono Yogyakarta habiskan 9.000 gulden dana keraton. Setara 80 juta rupiah!
Pada tahun 1937, Lapangan Kotabaru baru dibangun menjadi stadion sepak bola. Stadion ini lalu diberi nama Stadion Bijleveld. Nama ini terinspirasi dari nama gubernur Belanda di Yogyakarta yang memang gila bola, Johannes Bijleveld, yang menjabat pada 1934-1939. Tak hanya itu, Gubernur Bjileveld juga dipercaya sebagai pembina sepakbola di Yogyakarta. Konon pembangunan stadion ini menggocek biaya 9.000 gulden atau setara 80 juta rupiah dari anggaran keraton. Wow, angka yang cukup fantastis dan mak jleb untuk ukuran zaman itu ya?
Saksi bisu laga persahabatan Yogya vs Solo, klub pertama yang tampil di Stadion Kridosono
Pada 1938, Stadion Kridosono diresmikan oleh Sultan Hamengkubuwono VIII. Stadion ini dilengkapi dengan fasilitas tribun berkapasitas 600 kursi, atap peneduh, ruang ganti pemain, dan toilet. Usai peresmian, laga pertandingan Djokja vs Solo langsung dihelat. Kedua tim konon merupakan kontestan Stedenwedstrijden (laga sepak bola Indonesia pada masa kolonial Hindia Belanda) wilayah Oost/Midden Java. Pertandingan legendaris itu diwarnai hujan deras dan dimenangkan tuan rumah dengan skor 3-2.
Ganti nama dari Stadion Bijleveld ke Kridosono, bawa harapan dan semangat baru
Pada masa pendudukan Jepang (1942-1945), aktivitas sepak bola Yogyakarta nyaris lumpuh. Begitu juga era agresi milter saat Stadion Bjileveld digunakan untuk aktivitas militer. Akhirnya pada 1950, ketika kondisi di Yogyakarta berangsur kondusif, stadion ini direnovasi dan selesai di tahun yang sama. Nama yang tadinya Bijleveld diganti menjadi Kridosono yang artinya kepakan sayap. Nama tersebut dimaknai sebagai simbol semangat, kelincahan, dan ketangguhan. Harapannya, stadion ini akan jadi tempat para atlet dan tim olahraga menunjukkan dinamika perjuangan dalam mencapai puncak prestasi.
Pernah jadi markas PSIM, klub legendaris kesayangan warga Yogyakarta
Sebelum Stadion Mandala Krida selesai dibangun pada 1984, Stadion Kridosono lebih dulu jadi markas PSIM Yogyakarta. Bahkan ketika PSIM sudah pindah markas ke Mandala Krida, Stadion Kridosono masih dimanfaatkan jadi tempat pengambilan tiket sampai menggelar seleksi pemain asing. Jadi bisa dibilang, Stadion Kridosono cukup setia mengiringi perjalanan PSIM Yogyakarta.
Stadion yang gairah bolanya kalah sama euforia konser besar
Setelah beberapa kali gantian jadi markas PSIM, Kridosono mulai jadi venue konser musik rock pada 1970-an. Kridosono menjadi semacam ikon panggung rock pada masanya. Sebut saja penampilan Ucok AKA bersama Giant Step, band asal Bandung (1974) yang menjadi konser paling memorable sebab berakhir ricuh, penonton ngamuk-ngamuk, dan Ucok sampai dilarikan ke rumah sakit. Selain itu, band-band top dunia pun pernah mengisi panggung di Stadion Kridosono, seperti Dream Theatre pada 2017 dan Megadeth pada 2018. Konser demi konser ini terus menghidupkan Stadion Kridosono sehingga lebih populer dengan euforia konsernya daripada gairah sepak bola.
Peringkat satu stadion digosipin mulu sampe beneran downfall!
Meski status lahannya milik keraton, selama ini Stadion Kridosono dikelola oleh PDAM Tirtamarta. Sebelumnya stadion ini juga pernah dikelola PT Anindya Mitra Internasional yang merupakan BUMD di DIY. Dalam sejarah perjalanannya, stadion ini sudah ditempa berbagai gosip mulai dari akan dibangun menjadi mal hingga cagar budaya. Namun, gosip ini tidak terbukti seiring dengan pernyataan pamong budaya ahli pertama Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah X (DIY dan Jawa Tengah) Indra Fibiona bahwa meskipun Stadion Kridosono usianya tua tapi belum memenuhi syarat sebagai bangunan cagar budaya (BCB).
“Bisa dikatakan iya (stadion tertua) karena Stadion Mandala Krida baru dibangun oleh pemerintah Kota Yogyakarta pada tahun 1977,” ungkap Indra kepada Historia.ID.
Stadion Kridosono otw jadi ruang terbuka hijau (RTH), gosip yang insyaallah terakhir
Saat ini, kondisi Stadion Kridosono tampak begitu tua dan ringkih. Tidak ada gairah sepak bola yang tersisa. Banyaknya isu yang tidak jelas dan ketidakpastian turut menjadi penyebab stadion ini tak terurus. Kini PDAM Tirtamarta telah mengembalikan pengelolaan Stadion Kridosono ke pihak keraton. Menurut penuturan GKR Mangkubumi, kawasan Kridosono akan diubah menjadi ruang terbuka hijau yang diharapkan dapat mengurangi kepadatan wisatawan di Malioboro.
Itu dia sejarah alias kisah perjalanan Stadion Kridosono Yogyakarta dari masa ke masa. Suka dengan artikel-artikel bertema sejarah dan olahraga? Baca juga artikel kami tentang sejarah PSIM Yogyakarta!









