Sejarah Tomira bermula pada 2011, yakni ketika Dr. Hasto Wardoyo menjabat sebagai Bupati Kulon Progo. Semua franchise Indomaret dan Alfamart yang jaraknya dekat dengan pasar tradisional dipaksa tutup dengan alasan melindungi UMKM lokal. Sebagai gantinya, berdirilah Tomira yang digadang-gadang akan menjadi pahlawan bagi pemberdayaan ekonomi masyarakat di Kulon Progo.
Apa Itu Tomira dan Sejarah Berdirinya?
Dilihat dari namanya, Tomira merupakan akronim dari Toko Milik Rakyat. Dilansir dari menpan.go.id, Tomira adalah respons terhadap terbitnya Perda No. 11 Tahun 2011 tentang Perlindungan dan Pemberdayaan Pasar Tradisional serta Penataan Pusat Perbelanjaan dan Toko Modern di Kabupaten Kulon Progo. Perda itu menetapkan bahwa toko modern yang berstatus jejaring dan waralaba (seperti Indomaret dan Alfamart) serta berjarak kurang dari 1000 m dengan pasar tradisional dikenai sanksi penutupan.
Perda tersebut sempat menuai pro kontra. Bagaimana tidak? Ada banyak toko modern berjejaring yang lokasinya dekat pasar tradisional. Setelah ditotal, ada 18 toko modern, yaitu Alfamart dan Indomart di Kulon Progo yang melanggar Perda tersebut.
Nah, Sang Bupati akhirnya merilis kebijakan Tomira yang katanya menggandeng kerja sama dengan beberapa koperasi dan UMKM. Katanya sih tujuannya untuk melindungi pelaku usaha lokal dari persaingan ketat dengan toko modern.
Tomira dan Toko Modern, Apa Bedanya?
Dalam Kompetisi Inovasi Layanan Publik 2017, Tomira termasuk dalam top 99. Alasannya kare Tomira tergolong unik. Tidak ada lagi ketidakseimbangan pasar dan pembayaran royalti. “Selain itu penggunaan sistem operasional manajemen toko, manajemen rantai pasokan, dan barang dagangan tidak dikenakan biaya atau management fee,” imbuh Hasto yang akhirnya kembali terpilih menjadi Bupati Kulon Progo pada 2017.
Selain dari pasokan barang pabrikan, ada juga pasokan dan penjualan produk-produk lokal UMKM Kabupaten Kulon Progo minimal 20 persen dari barang toko. Status pemasok dari produk lokal juga setara dengan perusahaan pabrikan, yaitu sama-sama sebagai pemasok.
Dengan adanya sistem ini, produk-produk lokal yang bermutu diharapkan bisa terangkat dan layak jual dalam pangsa pasar modern. Selain memberikan kesempatan produk lokal UMKM bisa sejajar penjualannya di dalam toko modern, koperasi juga memberikan fasilitasi berupa pelatihan pendampingan dan juga bantuan alat serta pengemasan untuk produk UMKM lokal.
Protes Rakyat dan Realitas di Lapangan
Pada akhirnya, Tomira ini menuai banyak protes dari kalangan rakyat. Lho, kok bisa? Bukannya kebijakan ini dibuat untuk menolong perekonomian rakyat? Nah, Tomira ini meski disebut Toko Milik Rakyat, mayoritas barang yang dijual tetap saja produk-produk mainstream dari ritel besar. Produk UMKM lokal? Ada, tapi sekadar jadi pemanis etalase.
Secara konsep, Tomira tetap menawarkan kenyamanan layaknya Indomaret dan Alfamart, seperti ada AC dingin, rak yang tertata rapi, dan parkir luas. Jelas dengan kenyamanan yang ditawarkan semacam ini, Tomira jadi seperti memperparah persaingan. Bukannya membantu UMKM seperti yang dijanjikan di awal.
Desas-desus Kerja Sama dengan Alfamart, Milik Rakyat atau Milik Pejabat?
Terakhir, ada kabar yang lebih kontroversial. Usut punya usut, Tomira sejatinya tetap bekerja sama dengan ritel besar. Sebut saja Solihin, salah satu perwakilan Alfamart yang “keceplosan” memaparkan bagaimana Alfamart berperan aktif dalam mendukung operasional Tomira, mulai dari pengelolaan hingga pendanaan. Terus katanya Alfamart juga ngasih pinjaman modal 100 persen dengan sistem pengembalian dari omzet penjualan. Nah lho, jadi ini toko milik rakyat beneran bukan, sih?
Kebijakan yang katanya mau melindungi UKM lokal malah terlibat aktif sama jaringan ritel besar seperti Alfamart. Sistem kemitraan seperti ini jelas mengaburkan tujuan di awal. Beberapa pihak juga menilai bahwa dengan adanya pinjaman modal dan format barang dagangan yang mirip dengan toko modern, tak heran kalau Tomira justru dibilang Alfamart atau Indomaret yang cuma ganti kostum.
Nah, itu dia sejarah dan kontroversi Tomira di Kulon Progo. Toko Milik Rakyat yang masih dapat banyak protes dari rakyat. Suka dengan artikel sejarah sekaligus insight tentang Jogja? Baca juga artikel lainnya di sini!





