Pendidikan Khas Kejogjaan dijadwalkan mulai berlaku secara menyeluruh di semua sekolah wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Program penguatan karakter ini ditargetkan berjalan efektif pada tahun pelajaran baru 2026-2027 mendatang. Ketua Dewan Pendidikan DIY, Sutrisna Wibawa, menyebutkan bahwa penerapan awal sebenarnya telah dilakukan secara bertahap sejak tahun 2024 lalu.

Namun, pelaksanaannya diakui memang belum merata karena pihak terkait masih mengedepankan prinsip kehati-hatian. Langkah tersebut masih berupa uji coba terbatas di 10 sekolah percontohan untuk melihat respons dan efektivitas di lapangan.

Lantas, Apa Itu Pendidikan Khas Kejogjaan?

Banyak pihak mungkin bertanya-tanya dan mengira program ini akan menambah beban mata pelajaran baru bagi siswa di kelas. Sutrisna menjelaskan secara gamblang bahwa Pendidikan Khas Kejogjaan adalah pendidikan tentang nilai-nilai Jogja yang berfokus murni pada pembentukan karakter.

Program yang merupakan tindak lanjut dari pidato Gubernur DIY tahun 2019 ini bukanlah sebuah mata pelajaran baru yang berdiri sendiri. Sementara itu, esensinya lebih kepada keilmuan budaya yang disisipkan ke dalam mata pelajaran yang sudah ada selama ini agar siswa tidak terbebani.

Oleh karena itu, materi tentang nilai luhur ini akan diintegrasikan secara natural ke berbagai pelajaran dasar. Misalnya, filosofi sangkan paraning dumadi tentang asal-usul dan tujuan penciptaan manusia bisa disisipkan dalam pelajaran Pendidikan Agama atau Bahasa Jawa. Selain itu, wacana-wacana khas Jogja juga sangat terbuka untuk diresapi melalui mata pelajaran umum seperti Bahasa Indonesia dan Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS).

Evaluasi Positif dan Kesiapan Sekolah

Keputusan untuk memperluas program ini didasari oleh hasil evaluasi uji coba yang menunjukkan pengaruh sangat baik terhadap karakter peserta didik. Penilaian karakter siswa mencatat skor rata-rata yang memuaskan, yakni 4,1 dari skala maksimal 5. Keberhasilan inilah yang membuat Dewan Pendidikan DIY merasa yakin sekolah lain perlu segera menyusul.

Persiapan untuk penerapan massal saat ini terus dikebut dan dipastikan telah matang oleh pihak terkait. Buku panduan serta media pembelajaran pendukung dipastikan sudah siap diedarkan ke sekolah-sekolah. Selain itu, serangkaian bimbingan teknis bagi para guru juga terus dilakukan agar penyampaian materi budaya di kelas berjalan optimal.

Komentar Ditutup! Anda tidak dapat mengirimkan komentar pada artikel ini.