Banyak yang bilang kalau udah jadi orang Jogja pasti makan gudeg terus. Padahal tidak sesederhana itu. Gudeg memang sudah telanjur menjadi ikon kuliner Yogyakarta. Hampir setiap brosur wisata, papan nama toko oleh-oleh, hingga konten influencer menyebut makanan ini sebagai ciri khas yang wajib dicoba. Tak heran jika banyak orang luar kota mengira gudeg adalah makanan sehari-hari bagi warga Jogja. Seolah tak lengkap rasanya seminggu tanpa seporsi nangka manis dan krecek pedas. Tapi benarkah demikian? Apakah benar orang Jogja makan gudeg sesering itu?

Sebagai kuliner khas, gudeg telah menjelma menjadi bagian dari branding Yogyakarta. Di mata wisatawan, gudeg bukan sekadar makanan, tapi juga pengalaman budaya yang wajib ditandai sebelum pulang. Namun, representasi budaya tidak selalu mencerminkan kebiasaan sehari-hari masyarakat lokal. Ada jarak antara yang ditampilkan kepada dunia luar dan yang benar-benar terjadi di dapur-dapur warga Jogja.

Nah, apa saja faktor yang membuat gudeg justru jarang dinikmati warga lokal? Berikut beberapa poin yang harus kamu catat!

Kenyataan di Lapangan: Gudeg Bukan Makanan Harian Orang Jogja

Alasan pertama, gudeg bukanlah makanan yang akrab di meja makan sehari-hari warga Jogja. Dibandingkan dengan nasi goreng, bakmi jawa, atau pecel lele yang bisa ditemukan di setiap sudut kota dan disajikan dalam hitungan menit, gudeg jauh dari kata praktis. Banyak orang Jogja justru lebih sering menyantap makanan-makanan sederhana yang cepat, murah, dan mengenyangkan, terutama saat sarapan atau makan malam sepulang kerja.

Seorang teman asal Kotagede pernah berkata sambil tertawa, “Saya orang Jogja tapi terakhir makan gudeg dua bulan lalu, itu pun karena konsumsi seminar di kampus.” Pernyataan seperti ini mungkin terdengar mengejutkan bagi wisatawan, tapi cukup umum bagi warga lokal.

Mau Masak Gudeg Sendiri di Rumah? Lama, Bisa Semalaman!

Kedua, alasan lain yang membuat gudeg jarang dimasak sendiri oleh warga Jogja adalah proses pembuatannya yang sangat memakan waktu. Sebenarnya hidangan ini sudah bisa dinikmati ketika sudah dimasak selama 5 jam. Namun, untuk menghasilkan gudeg yang legit dan pekat, nangka muda atau gori harus dimasak dalam santan dan gula merah selama 12 jam.

Selain nangka muda yang dimasak lama, persoalan telur juga tidak bisa sembarangan. Telur yang digunakan untuk gudeg adalah telur bebek. Hal ini tentu bukan tanpa alasan. “Proses memasak gudeg yang lama jika menggunakan telur ayam kampung atau telur ayam ras mengakibatkan telur bisa pecah” jelas Remila Mursinta, generasi ketiga pemilik Gudeg Yu Djum dilansir dari RRI Pro 4 Yogyakarta, pada Jumat (20/6/2024).

Melihat Gudeg Jogja sebagai Hidangan Spesial, Bukan Harian Kayak Angkringan

Ketiga, gudeg bukanlah hidangan yang dimasak untuk kebutuhan sehari-hari, melainkan untuk momen-momen tertentu yang punya makna sosial dan budaya. Ia biasanya hadir saat kenduri, acara keluarga besar, atau sebagai sajian untuk menyambut tamu luar kota. Contohnya, seminar-seminar atau konferensi berskala nasional yang diadakan di Yogyakarta, gudeg sering muncul sebagai welcome meal, alias suguhan simbolis yang membawa misi kebudayaan.

Meskipun tetap disukai, gudeg diposisikan sama seperti opor: bukan makanan rutin, tapi disajikan di hari-hari yang dianggap penting. Kalau mau dibikin perbandingan yang adil, gudeg di mata orang Jogja itu kayak rendang untuk orang Padang—disayang, tapi nggak dimasak setiap hari. Jadi, jangan heran kalau orang Jogja justru lebih sering sarapan dengan sego kucing daripada gudeg. Karena emang seaneh itu kalau dimakan tiap hari!

Akhirnya, penting untuk disadari bahwa selera makan tidak bisa disamaratakan hanya karena identitas geografis. Menjadi orang Jogja bukan berarti mengonsumsi gudeg setiap minggu, sama seperti orang Padang yang tak selalu makan rendang atau orang Madura tak terus-menerus menyantap bebek bumbu hitam. Nanti malah kolesterol!

Gudeg tetap punya tempat istimewa dalam budaya Yogyakarta. Ia menjadi simbol kebanggaan, warisan kuliner, dan cerita sejarah yang panjang. Namun secara praktis, tidak semua orang Jogja rutin memakannya dan itu tidak membuat mereka kurang “Jogja” dari yang lain. Karena pada akhirnya, cinta Jogja bukan berarti makan gudeg tiap minggu, tapi memahami kedalaman makna dan kekayaan budayanya.

Suka dengan artikel kami yang membahas kuliner Yogyakarta? Perlu rekomendasi bacaan lain buat referensi? Baca artikel kami lainnya tentang rekomendasi kuliner di Jogja!

Makin Tahu Indonesia

Komentar Ditutup! Anda tidak dapat mengirimkan komentar pada artikel ini.