Ari Kurniawati menjelaskan bahwa pola penularan di setiap wilayah memiliki karakteristik berbeda. Di empat kabupaten, faktor persawahan menjadi dominan. Namun, situasi berbeda terjadi di wilayah perkotaan seperti Kota Yogyakarta.
Faktor Sanitasi dan Lingkungan Perkotaan
Di Kota Yogyakarta, penularan lebih banyak dipengaruhi oleh kondisi sanitasi lingkungan dan tumpukan sampah. Selain itu, perubahan iklim yang menyebabkan genangan air atau banjir kecil turut berpengaruh. Kondisi ini menjadi tempat potensial bagi penyebaran bakteri leptospira.
Pemerintah terus mengimbau masyarakat untuk waspada karena gejala awal penyakit ini mirip dengan demam biasa atau demam berdarah. Gubernur DIY bahkan telah menerbitkan Surat Edaran pada tahun 2025 agar seluruh sektor waspada terhadap penyakit ini. Diagnosis yang tepat sangat penting untuk mencegah keterlambatan penanganan.
Wali Kota Yogyakarta, Hasto Wardoyo, juga menekankan pentingnya perbaikan lingkungan melalui program bedah Rumah Tidak Layak Huni (RTLH). Lingkungan yang bersih dan rumah yang layak huni dinilai mampu mengurangi risiko penyebaran penyakit, termasuk TBC dan Leptospirosis.







