Yogyakarta memang dikenal sebagai kota pelajar, kota wisata, dan kota budaya yang membanggakan. Namun, jika kita berbicara soal fasilitas bagi pejalan kaki, mohon maaf, nilainya mungkin masih harus remidi.
Coba kita hitung kembali jumlah fasilitas penyeberangan yang aman di provinsi yang memiliki slogan “Berhati Nyaman” ini. Faktanya, keberadaan JPO di Jogja (Jembatan Penyeberangan Orang) untuk publik rasanya jauh lebih sedikit dibandingkan jumlah kedai kopi kekinian.
Kalau kita bedah, praktis JPO yang benar-benar untuk UMUM (bukan khusus kampus/RS) cuma ada dua:
JPO Ambaramarga (Amplaz): Si Paling Sultan
Ini satu-satunya JPO di tengah kota yang manusiawi. Ada lift, adem, estetik. Tapi ya itu, letaknya nyambung Mall dan Hotel. Jadi kesannya fasilitas ini ada karena “bisnis”, bukan murni pelayanan publik.
JPO Beringharjo: Si Jalan Pintas Parkiran Ini sering luput dari hitungan. Lokasinya ada di area Pasar Beringharjo. Tapi, jangan bayangkan ini jembatan penyelamat di jalan raya. Fungsinya “cuma” menghubungkan Tempat Parkir dengan Lantai 2 Pasar Beringharjo. Jadi, ini lebih ke fasilitas biar pengunjung yang parkir nggak capek naik tangga atau nyeberang jalan kecil, bukan solusi untuk pejalan kaki yang bertaruh nyawa di jalan protokol.
JPO Jogoyudan (Wates): Si Anak Baru
Terobosan baru di Kulon Progo buat gantiin perlintasan kereta. Bagus, tapi jauh dari pusat keramaian kota Jogja.
“Lho, yang di UIN sama UGM gimana?”
Nah, ini sering salah kaprah.
JPO UIN Sunan Kalijaga: Itu sebetulnya jembatan penghubung antar-fakultas. Posisinya memang melintang, tapi fungsinya lebih ke internal kampus, bukan buat warga umum yang mau nyeberang santai.
JPO RS Sardjito – FK UGM: Ini juga sama. Itu fasilitas vital rumah sakit dan kampus. Bukan jalur umum buat kita yang cuma mau cari makan siang.
Jadi, praktis warga Jogja cuma punya sedikit sekali opsi aman buat nyeberang. Sisanya? Modal bismillah dan lambaian tangan saja.
Ada beberapa titik yang menurut kami URGENT banget untuk dibangun JPO
UPN / AMIKOM – PASAR CONCAT (Ring Road Utara)
Ini titik paling krusial. Jujur, ngeri sedap kalau lewat sini.
Kondisinya chaos: Jalannya Ring Road (kendaraan kencang), tapi aktivitas penyeberangnya padat luar biasa. Ada ribuan mahasiswa UPN & Amikom, plus warga lokal yang lalu-lalang ke Pasar Condongcatur.
Sudah terlalu sering kita dengar kabar duka penyeberang tertabrak di sini. Sedih rasanya kalau nyawa melayang cuma gara-gara mau berangkat kuliah atau beli sayur. Tolonglah, ini prioritas nomor satu. Jangan nunggu viral dulu baru dibangun.
Depan RSUD Sleman (Jalan Jogja-Magelang)
Kawasan rumah sakit seharusnya menjadi zona dengan tingkat keselamatan tinggi. Namun, fakta di lapangan menunjukkan arus kendaraan di Jalan Jogja–Magelang kerap melaju dengan kecepatan tinggi.
Pejalan kaki di kawasan ini tidak hanya warga sekitar, tetapi juga pasien, keluarga pasien, lansia, dan tenaga kesehatan. Tanpa fasilitas penyeberangan yang layak, risiko kecelakaan di depan fasilitas pelayanan publik ini terus mengintai.
Jalan Jenderal Sudirman Barat – Jembatan Gondolayu
Sebagai kawasan perkantoran dan pusat aktivitas harian, ruas ini memiliki volume penyeberang yang signifikan, terutama pada jam berangkat dan pulang kerja. Namun, kendaraan sering memacu kecepatan untuk mengejar fase lampu hijau.
Ketiadaan JPO menjadikan keselamatan pejalan kaki bergantung pada kehati-hatian masing-masing, bukan pada sistem lalu lintas yang melindungi.
RING ROAD BARAT (Area Kampus UMY)
Sama kasusnya kayak di utara. Banyak mahasiswa ngekos di seberang kampus dan tiap hari harus bertarung nyawa nyeberang Ring Road yang ganas. Masak iya mau menuntut ilmu resikonya segede itu?
Jogja memang istimewa kenangannya. Tapi tolonglah, fasilitas pejalan kakinya jangan dibuat “terlalu istimewa” (baca: jarang ada). Kita butuh jembatan buat menyelamatkan nyawa, bukan cuma janji manis tata kota.
Pada akhirnya, kami cuma warga biasa yang ingin berangkat kerja dan kuliah dengan selamat. Jogja sudah punya bandara megah dan stasiun mewah, masa iya bikin jembatan penyeberangan aja susahnya minta ampun?