Isu mengenai arah pembangunan pariwisata di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) kembali menjadi sorotan hangat. Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Mangkubumi secara tegas menolak gagasan yang ingin menjadikan Jogja sebagai ‘Bali Kedua’ demi menarik wisatawan.
Pernyataan menohok ini disampaikan oleh GKR Mangkubumi saat menghadiri Musyawarah Daerah (Musda) ke-IX Kadin Gunungkidul di Bangsal Sewokoprojo, Wonosari, Senin (9/2/2026). Putri sulung Sultan Hamengku Buwono X ini menilai bahwa meniru konsep tetangga bukanlah solusi yang bijak bagi Jogja.
Belajar dari Masalah Overtourism
Menurut GKR Mangkubumi, berkaca pada kondisi Bali saat ini, ada banyak pekerjaan rumah yang harus diwaspadai, terutama soal overtourism. Konsep pariwisata massal yang tidak terkendali dikhawatirkan justru akan membawa tekanan berat bagi lingkungan dan kenyamanan warga lokal.
Oleh karena itu, beliau mengingatkan agar para pemangku kebijakan dan pelaku usaha tidak silau dengan angka kunjungan semata. Jogja dinilai memiliki jalur takdirnya sendiri yang lebih mengutamakan kualitas ketimbang sekadar kuantitas pelancong.
Wisata Berbasis Budaya dan Manusia
Alih-alih meniru, GKR Mangkubumi menekankan pentingnya pembangunan wisata yang bertumpu pada nilai sosial dan kultural masyarakat setempat. Jogja punya karakter unik yang tidak dimiliki daerah lain, dan itulah yang seharusnya menjadi nilai jual utama.
“Pengembangan wisata harus menghormati nilai-nilai tersebut, bukan sekadar mengikuti model yang diterapkan di tempat lain,” ujar GKR Mangkubumi di sela-sela diskusi.
Sementara itu, data menunjukkan bahwa tren kunjungan wisatawan domestik ke DIY terus meningkat tanpa harus mengorbankan akar budaya. Hal ini membuktikan bahwa Jogja tetap seksi di mata pelancong justru karena keaslian dan sisi humanisnya yang terjaga.







