Sebuah inisiatif bermakna hadir lewat kolaborasi Genect x Remen Jawi yang menggelar acara unik di Yogyakarta. Mereka menghadirkan acara bertajuk SERASI atau Srawung Lintas Generasi pada Sabtu (31/1/2026). Kegiatan ini mengusung tema kecantikan, warisan budaya, dan inklusivitas untuk meruntuhkan stigma bahwa cantik hanya milik anak muda.

Acara ini lahir dari kebutuhan mendesak untuk memberikan pengalaman berbeda bagi para lansia. Lokasi kegiatan bertempat di Panti Jompo Wredha Mulya. Pengurus panti, Guntur, mengungkapkan keresahannya selama ini. Menurutnya, kegiatan dari komunitas luar seringkali terasa monoton.

Biasanya, aktivitas hanya terbatas pada merangkai bunga, mewarnai, atau melipat kertas. Namun, Guntur menilai hal itu kurang menyentuh sisi emosional yang mendalam. Oleh karena itu, ia berharap adanya pembaruan konsep yang lebih segar. Menjawab hal tersebut, sinergi Genect x Remen Jawi hadir menawarkan solusi. Mereka membuat aktivitas yang tidak hanya mengisi waktu, tetapi juga menyentuh sisi psikologis para lansia.

Pendekatan Budaya dalam Kolaborasi Genect x Remen Jawi

Genect merupakan organisasi kepemudaan internasional yang berakar dari Jepang. Mereka berupaya membangun koneksi antargenerasi. Melalui kerja sama Genect x Remen Jawi, visi tersebut diterjemahkan ke dalam konteks lokal yang kental.

Sementara itu, Remen Jawi dikenal dengan fokus budayanya. Mereka memasukkan unsur Jawa melalui ragam busana, aroma, dan cita rasa. Hal ini menjadi medium pendekatan yang relevan bagi para orang tua. Interaksi ini dirancang khusus untuk menciptakan kedekatan emosional antara anak muda dan lansia.

Selain itu, acara ini turut melibatkan berbagai mitra strategis. Sebut saja organisasi sosial Karuna Amarta dan layanan psikologi Lost ID. Tak ketinggalan, hadir pula penata rias Coretan Lailla dan Awkiki. Kehadiran mereka bertujuan memperkaya pengalaman para peserta agar merasa lebih istimewa.

Mewujudkan Inklusivitas dan Percaya Diri Lansia

Lewat kegiatan ini, kecantikan tidak lagi dipandang sebagai tuntutan visual semata. Gerakan ini memosisikan kecantikan sebagai bentuk penerimaan terhadap proses penuaan. Pengalaman hidup yang utuh dari para lansia menjadi nilai utamanya.

Para lansia diajak untuk merasa dilihat, dihargai, dan tetap percaya diri. Suasana yang dibangun pun sangat hangat dan humanis. Akibatnya, para penghuni panti terlihat lebih ceria dan antusias dibanding kegiatan biasanya.

Inisiatif ini diharapkan menjadi langkah awal yang baik. Tujuannya adalah membangun kepedulian antargenerasi yang lebih empatik di masa depan. Masyarakat luas pun diajak membuka perspektif baru. Kita harus melihat kecantikan secara inklusif, tanpa terbatasi oleh angka usia maupun standar fisik sosial.

Komentar Ditutup! Anda tidak dapat mengirimkan komentar pada artikel ini.