Prestasi internasional kembali diraih oleh sineas akademis Indonesia. Film fiksi pendek berjudul Bunga-Bunga di Jala Ikan (A Mixed Blessing) karya mahasiswa ISI Yogyakarta resmi terpilih untuk berkolaborasi dengan Juilliard School, sekolah seni pertunjukan terkemuka dunia yang berbasis di New York.

Karya ini terpilih masuk dalam program Juilliard’s Art of the Score pada perhelatan Bali International Film Festival (Balinale). Melalui program ini, tim produksi film akan bekerja sama langsung dengan mahasiswa musik dan komposer dari Juilliard School untuk menciptakan komposisi musik latar (scoring) orisinal.

Rekam Jejak Prestasi Mahasiswa ISI Yogyakarta di Kancah Global

Pencapaian ini mempertegas posisi mahasiswa ISI Yogyakarta dalam peta perfilman pelajar internasional. Bagi sang produser, Saddam Putra Dewa Rimbawan, ini merupakan kali kedua ia berhasil menembus program yang sama. Sebelumnya, Saddam telah berpartisipasi melalui film Gadis dan Penatu pada tahun 2023.

Saddam menegaskan bahwa pengalaman sebelumnya menjadi modal utama dalam memaksimalkan potensi karya kali ini. Ia mengaku telah memahami alur kerja standar internasional yang diterapkan oleh institusi sekelas Juilliard.

“Pada kolaborasi saya kedua ini, tentunya saya akan memastikan karya saat ini bisa jauh lebih maksimal dan lebih baik daripada karya sebelumnya,” ujar Saddam, Kamis (22/1/2026).

Sementara itu, Sutradara Cinta Setia menyambut antusias kesempatan ini. Baginya, kolaborasi lintas negara ini adalah pengalaman perdana yang krusial bagi pengembangan kariernya.

“Dari proses pengembangan naskah, kami selalu berkolaborasi dengan siapa pun untuk memaksimalkan potensi kami. Kolaborasi musik skor di program Balinale bersama Juilliard School merupakan kolaborasi secara internasional pertama saya,” ungkap Cinta.

Mengangkat Isu Lokal ke Panggung Dunia

Film Bunga-Bunga di Jala Ikan merupakan debut penulisan naskah bagi Cinta Setia sekaligus film ketiga yang ia sutradarai. Film ini juga menandai kerja sama perdana antara Cinta dan Saddam sebagai mitra produser dan sutradara.

Secara tematik, film ini mengangkat isu ketahanan sosial masyarakat dengan latar belakang tradisi lokal di Danau Rawa Pening. Cerita berfokus pada perjuangan sebuah keluarga yang terdesak secara ekonomi. Mereka kemudian berupaya memenuhi kebutuhan hidup dengan memanfaatkan tradisi “Sedekah Rawa Pening”. Narasi lokal yang kuat ini dinilai menjadi daya tarik utama bagi kurator internasional.

Jadwal Produksi dan Distribusi

Proses kolaborasi kreatif antara mahasiswa ISI Yogyakarta dan komposer Juilliard dijadwalkan mulai pada akhir Januari 2026. Tahap ini ditargetkan rampung sepenuhnya pada April 2026.

Nantinya, hasil akhir dari kolaborasi visual dan musik ini akan ditayangkan secara perdana di Bali International Film Festival. Festival tersebut rencananya akan digelar pada 1 hingga 7 Juni 2026.

Saddam berharap momentum ini tidak berhenti pada fase produksi saja. Ia menargetkan adanya peluang distribusi yang lebih luas pasca-festival.

“Kolaborasi ini harapan saya membuka peluang lain untuk kolaborasi di pasca produksi dan tentunya distribusi film ini,” pungkas Saddam.

Komentar Ditutup! Anda tidak dapat mengirimkan komentar pada artikel ini.